Skip to main content

Moment Ambil Raport Anak, Biasa atau Istimewa?


"Bu..aku besok Senin libur.." 
"Lha..kenapa?"
"Tanggal merah tho.."
Begitu laporan sulung saya tempo hari, pasca pulang sekolah. Otomatis kepala saya berputar ke arah kalender yang tertempel di dinding. Oalaah...libur Maulud Nabi ternyata. 

Status seorang ibu yang tak terikat jam kerja, dimana lebih sering tak mengenal hari kerja tanpa peduli ini hari apa atau tanggal berapa, memang sering membuat saya lupa pada kalender. Kadang masih hari Sabtu, juga di kira sudah Minggu..hi..hi. 

"Ini...ada pengumuman dari sekolah " lanjutnya sambil menyodorkan selembar kertas. Pengumuman libur sekolah dan jadwal penerimaan rapor tanggal 17 Desember mendatang. Sementara untuk PAUDnya Si kecil, pengambilan raport jatuh tanggal 13 besok. 




Agak deg-degan, padahal si anak mah biasa aja. Well, bagi saya, hari ketika raport anak-anak nanti dibagikan adalah moment istimewa. Menjadi istimewa, bisa jadi karena saya yang cuma ibu-ibu biasa, karena hal pembimbingan anak di rumah, adalah job desk utama saya.


Melalui raport, saya tahu hasil penilaian orang lain, pihak luar (dalam hal ini sekolah) terhadap anak-anak. Tidak hanya dalam kemampuan akademik, tapi juga dalam bidang-bidang yang lain. Saya pasti akan berbunga-bunga bahagia, ketika dalam laporan dari pihak sekolah menyatakan anak-anak masih berada dalam jalur yang benar, dan akan sangat sedih jika yang terjadi adalah sebaliknya. 

Di moment itu juga saya bisa ngobrol lumayan lama dengan bu Nita, wali kelasnya Raka atau juga dengan para ustadzah yang handle Alya pas di sekolah. Paling tidak, di waktu tersebut saya bisa memperkuat sinergi orang tua dan guru dalam hal pengasuhan anak di rumah maupun di sekolah. Sungguh, mimpi saya untuk anak-anak cukup sederhana, berharap anak-anak tumbuh menjadi bocah nggenah lan pener. (bahasa Jawa, artinya benar, tepat)

Dari hasil survai kecil-kecilan dengan beberapa teman, rata-rata mereka juga beranggapan bahwa waktu pengambilan raport adalah moment istimewa, dan ada beberapa alasan untuk itu:
  • Waktu pengambilan raport, adalah waktu untuk menanyakan keadaan anak di sekolah dengan sebenar-benarnya, bahkan melalui pertemuan ortu-guru, bisa dipesankan hal-hal atau bimbingan-bimbingan khusus keguru. (Karena beberapa anak justru lebih nurut dengan gurunya dibanding dengan bapak-ibunya)
  • Komunikasi dua arah antar orang tua dan guru di sekolah, memungkinkan masing-masing pihak untuk menyampaikan hasil kerjanya. Guru menyampaikan perkembangan anak di sekolah, sementara orang tua menyampaikan perkembangan anak di rumah.
  • Pengambilan  raport, bisa juga dijadikan momentum untuk menyampaikan saran, kritik sebagai masukan positif untuk pihak sekolah.
  • Bagi orang tua dengan anak-anak yang belajar dengan sistem boarding school alias pondokan, pengambilan raport adalah hal yang sangat istimewa karena itu pertanda masa penjemputan dan kembali berkumpul bersama anak sudah tiba.

Eh..masih ada bonusnya. Pengambilan raport, adalah ajang Me time. Lha kok bisa? Ini adalah saatnya para emak mengeluarkan powernya, menanggalkan daster dan berdandan cantik untuk bertemu para emak lainnya. 😀😁

Wkk...meski kesannya asal, tapi sepakat dengan poin yang ini. Kalau biasanya saya cukup dengan berkaos-celana panjang dan banyakan make  jilbab instant saat ke sekolah untuk urusan antar jemput anak, maka di tanggal 13 dan 17 besok saya kudu tampil beda. Saatnya untuk mengenakan baju muslim terbaik yang saya punya, plus merenovasi gaya jilbab. Dibanding dengan jilbab instant, pasti tampilan dari hijab segi empat yang dihias bros akan terlihat lebih formal dan elegan. Kalo ibunya cantik, siapa yang akan bangga coba? Anak dan suami juga kan..? Hi..hi😀😊

Balik lagi ke masalah moment biasa atau istimewa. Lalu, adakah yang berpandangan beda? Ya pasti ada. Bagi beberapa teman, pengambilan raport anak adalah hal biasa, nggak ada istimewanya. Alasannya antara lain:
  • Sudah semacam tradisi di sistem pendidikan Indonesia, pasca Ulangan Akhir Semester ya terima raport. Jadi ya sudah..urusan pengambilan raport adalah hal biasa, bisa banget diwakilkan.
  • Angka angka atau tulisan yang tertera di dalam raport, bukan sesuatu yang layak diistimewakan, karena tidak bisa jadi patokan keberhasilan dan kesuksesan anak saat ia besar nanti.

Ya...namanya juga sebuah peristiwa, pasti ada pro-kontranya, dan memang itu pilihan masing-masing kok. Tapi bagi saya melibatkan sekolah dalam proses pendidikan dan  tumbuh kembang anak, adalah salah satu ikhtiar orang tua, nanti mau endingnya bagaimana..itu  akan banyak sekali faktor yang "bermain" di dalamnya. 

Comments

  1. heheheh jadi inget masa masa masih SD mbak

    ReplyDelete
  2. Bulan October kemaren, pertama kalinya aku mengambil rapot anakku yg SD. Ya kali karena baru sekolah kemaren.

    Buatku istimewa laaah, karena first time. Aku bisa silaturahmi dengan ibu ibu lain dan ngobrol tentang perkembangan belajar anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya klo ketemu ibu2 trus pada curhat..kebiasaan masing2 anak..dan rata2 curhatnya sama, senasib☺☺

      Delete
  3. hehe...salah satunya kalau aku ya karena bisa 'keluar' dari dandanan sehari-hari itu. ga mencolok sih, tapi paling ga ya bisa pake sepatu. *padahal masuk kelas sepatunya dicopot*

    yang kedua karena bisa ngobrol sama gurunya anak-anak. dapat masukan dan diskusi tentang kelebihan dan kekuragan anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha..ha, lebih tepatnya ngrasin pake sepatu lagi mbak..

      Delete
  4. Selalu istimewa mbak. Moment yang ajang brtnya kpd walikelas keadaan anak2. Bgmn dskolah akhlaqny bgmn? Dsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, klo aku mikirnya juga gitu..klo nggak pas terima raport..jarang nemu waktu untuk diskusi dengan gurunya

      Delete
  5. rapotannya per apa mbak? Aku dlu pnh diposisi yg ngasih laporan haha,ga kalah tegangnya dgn yg menerima laporan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Per semester De.. Bulan Desember sama sekitar Juni gitu..

      Oh...yang ngasih raportnya pun tegang? Ndak di komplain ortunya po pie?

      Delete
    2. Pastinya sebagai ortu lbh suka dgr berita bagus to mbak. Nah ketika ada yg kurang bagus,misalnya putra/putrinya msh belajar memupuk percaya diri d depan tmn2nya,kmi selayaknya memilih kalimat yg sopan dan bs diterima oleh ortu tanpa mengurangi maksud sesungguhnya. :)

      Delete
  6. tengkiu loh mbk sharenya, referensi aku nih klok si ken skolah nanti

    ReplyDelete
  7. Jamanku sekolah dulu, rapor diambil sendiri.. jadi kalau gak main ke rumah temen, ya gak bakal tau yang mana ortunya, hehehe.

    Besok kalau tiba waktunya aku jadi ortu pengambil rapor, kayaknya kudu nyiapin penampilan juga nih #gantungdaster :D

    ReplyDelete
  8. Semacam bisa jadi ajang curhat Ortu dan Guru utk kesuksesan anak ya Mbak 😁
    Moga Gasol report anak2 bagus semua ya Mbak😊

    ReplyDelete
  9. Ntr sabtu aku juga mau ambil raport, tapi anakku msh TK msh mud2an belajarnya dan banyak bolosnya, eh tp ok ya tetep deg2an ya hehehe
    TFS

    ReplyDelete
  10. Saya kalau ambil raport justru tergesa-gesa dan pengen cepat selesai mbak Sulis, karena habis itu terus kerja. Jarak sekolah Vani dan tempat kerja lumayan jauh sih, kalau ngangkot bisa 1 jam lebih tergantung pak sopir mau santai atau ngebut, hehe..

    Makanya saya nggak begitu kenal dengan orang tua murid lain, maunya begitu datang langsung terima dan cuss lagi kerja haha.. jangan ditiru ya mbak.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin