Skip to main content

Membangun Relasi Sehat Anak & Gadget

Bisa nebak para bocah ini pada ngapain?



Dikubu cowok, anak-anak ini lagi ngrubutin satu tablet yang lagi nayangin tutorial salah satu game, dan mereka dengan sangat khusuk menyimaknya. Sementara, satu bocil cewek...ikut-ikutan dengan modal smartphone bapaknya; nge game balapan mobil!!



"Bubar-bubar...udah lama nge gamenya...udah sepedaan aja atau main apa di luar..."

Seorang ibu membubarkan kerumunan massa. Berharap anak-anak bisa dialihkan dengan kegiatan lain. Pada bubar nuntun sepeda masing-masing.

"Bu..main tempat Ditto yaa.."
"Ya...jam 12 pulang"

Waktu berlalu. Udah waktu dhuhur dan makan siang. si Bocah laki-laki belum juga pulang dari acara bermain. Di susul lah ke tempat temannya. Ada beberapa sepeda terparkir di depan rumah. Apa yang anak-anak lakukan?

Walah...ternyata cuma pindah lokasi dan ganti media! Nge game meneh. Cuma bedanya sekarang pake komputer. Oalah bocah..!!
***

Tantangan pengasuhan di Era digital
Harus saya akui, betapa tertolongnya komunikasi kita dengan sebuah alat yang sering dijuluki ponsel pinter alias smartphone. Dengan benda ini, dunia yang sangat luas bisa dengan mudah kita jelajahi. Informasi bisa dengan mudah kita dapatkan, semudah membalik telapak tangan.

Kalau nggak ada smartphone dengan jaringan internet...mana bisa saya ngeblog seperti sekarang? Kalau nggak ada pakdhe google, mau nanya siapa saat Raka ada PR mesti nerjemahin lagu daerah asal Papua? Dan dengan teknologi internet plus ribuan game yang tersebar di dunia maya,sebagai ibu saya lebih bisa hemat tenaga. Kenapa? Karena saya nggak perlu bingung nyuapin Alya. Kalau biasanya ia minta disuapin sambil ngejar-ngejar kucing tetangga, dengan disodorin smartphone, ia bisa anteng, dan saya bisa nyuapin sambil mantengin berita gosip artis. *enak kan? 😀😁

Itu berbagai kemudahan yang saya dapatkan setelah kedatangan 2 benda mungil berlayar 5 inch dan 7 inch ini di rumah kami. Tapi dibalik kemudahan-kemudahan tadi, ada pula perubahan-perubahan yang juga saya sadari, terutama bagi anak-anak. Faktanya, semakin intens anak-anak memegang smartphone, semakin sering ia menjawab "nanti...." saat saya memintanya belajar, mandi, ataupun sholat. Semakin sering pula anak-anak lebih memilih asyik dengan gamenya saat bertandang ke rumah saudara, ataupun kakek-neneknya. Dengan benda itu ditangan, saya menggambarkan, seolah mereka menemukan dunianya sendiri dan kadang menjadi tak peduli dengan lingkungan sekitar.

Dan sepertinya saya tak sendiri. Di luar sana, mungkin akan banyak cerita-cerita senada. Mungkin karena itu pula, PAUDnya Alya tempo hari menggelar seminar parenting dengan tema Anak Vs Gadget; Bahaya Gadget dan Penanggulangannnya sejak Dini.

Narasumbernya ibu muda juga. Bedanya, beliau ini punya background ilmu yang mendukung, yakni  Ammik Kisriyani, S.Psi, MA dari laboratorium Pengembangan Anak Usia Dini  Fakultas Psikologi UGM. Ketika ibu Ammik bertanya ke audience, apakah para ortu ini memiliki smartphone dan apakah anak-anak tertarik dengan smartphone dengan ayah-ibunya..maka bisa ditebak jawaban mayoritasnya, pasti "iyaaaa..."


Dalam pemaparannya, Ammik mengatakan bahwa dalam beberapa kasus penggunaan smartphone oleh anak, bisa saja yang didapatkan adalah efek positif. Sebagai contoh, hasil penelitian mengungkapkan tayangan Sesame Street dan beberapa tayangan interaktif misalnya kartun Dora, jika ditonton anak berusia 3-5 tahun akan menambah perbendaharaan kata dan kemampuan komunikasi anak akan bertambah baik. Begitu juga dengan beberapa tayangan lainnya. 
Inti yang bisa saya ambil berarti; PILIH CONTENT YANG SESUAI.

Walau begitu, smartphone juga membawa dampak buruk bagi anak-anak (dan saya sudah mulai merasakan itu). Menurut Ammik, beberapa efek buruknya adalah:

  • Mengurangi kualitas interaksi anak dengan ibu atau orangtuanya.Oke, sepakat. Dan sayapun juga harus memininalisir memegang hape di depan anak-anak. 
  • Smartphone akan mendorong anak berprilaku konsumtif. Dampak yang lain yaitu mengurangi porsi kegiatan fisik, yang kemudian akan melahirkan anak-anak dengan kecenderungan kelebihan berat badan atau obesitas. 
  • Paling berbahaya adalah ketika anak-anak sudah terpapar pornografi dan kekerasan. 
Poin yang bisa saya tangkap adalah: DAMPINGI ANAK SAAT MEREKA SIBUK DENGAN SMARTPHONE. Ini yang butuh perjuangan dan juga keikhlasan. Kenapa? Karena saat anak megang smartphone, biasanya si ibu atau ayah sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Saya banget!

Terus Bagaimana dong?
Memisahkan sama sekali anak-anak dengan gadget, menurut saya akan sangat sulit. Mereka sudah terlanjur kenal, dan harus kita akui, anak-anak ini terlahir di jaman digital. Menyuruh mereka kembali ke era gobok sodor, main sepeda sepanjang hari, atau sibuk bermain lompat tali..kayaknya juga mimpi (tapi saya berharap bisa terrealisasi).

Suatu hari, saya pernah nanya ke Raka.. 
"Ka..mbok sana main gobak sodor atau apa. Udah diajari tho di sekolah?"
Dan jawabannya adalah...
"Lha aku mau main sama siapa..teman-temannya pada nggak mau kok" . Nah itulah realitas di lapangan.

Back to topic. Menurut Ammik Kisriyani, cara yang tepat adalah Memanage relasi anak dengan smartphone, diantaranya dengan:

1. Batasi Penggunaan pada anak-anak, dan ini berlaku juga untuk para orang tua. Jangan sampai memfungsikan gadget sebagai babysitter. Waktu yang ideal bertatap muka dengan gadget adalah tak lebih dari I jam.

2. Tidak memberikan gadget pribadi untuk anak.  Tujuan dari poin ini lebih ke fungsi pengawasan orang tua ke anak. Jadi jangan sampai anak lepas kendali.

3. Memberi alternatif kegiatan ke anak.
Kayaknya ini yang paling utama, dan saya lagi berusaha mengalihkan Raka dan juga Alya untuk tidak mati gaya walau tanpa gadget. Selama ini yang saya lakukan adalah menambah tanggungjawab Raka (misal kalo libur tambah pekerjaan cuci sepatu, tas, atau sekedar ngasih makan ikan). Memberdayakan dan memaksimalkan fungsi mainan-mainan yang ada dirumah.

4. Buat kesepakatan dengan anak.
"Boleh pegang hape, boleh main game, tapi setengah jam dari sekerang, kembalikan hape ke fungsi utamanya, yakni sebagai alat komunikasi. " Misalnya kesepakatan-kesepakatan seperti itu.

Dengan 4 langkah diatas, diharapkan tercipta relasi yang lebih sehat antara anak-gadget. Demi generasi yang lebih baik, yuk bantu anak untuk menggunakan gadget secara bijak!



Comments

  1. Iya betul, smartphone bisa membantu. kita ya. ya buat ngantengin anak, juga untuk menyelesaikan tugas.

    semoga kita dan keturunan kita selamat dari godaan dunia. aaamiiin.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin