Skip to main content

Trumpon; Kenangan dan Harapan



Puluhan pemuda tampak dengan lincah menarikan tarian Badui sebagai bentuk penghormatan kepada rombongan pengunjung. Beberapa saat setelah acara penyambutan usai, para tamu pun diajak menyusuri desa dengan kereta mini, mengantarkan mereka untuk melihat desa yang mengusung agrowisata salak pondoh sebagai potensi wisata utama. Setelah puas menikmati salak pondoh asli dari kebun petani, pengunjung mendapatkan jamuan nasi kenduri --suguhan yang bagi sebagian orang mungkin terasa amat istimewa.

Itulah secuil peristiwa di tahun 2005 yang masih saya ingat, ketika untuk pertama kali menginjakkan kaki di desa Trumpon, Merdikorejo, Tempel, Sleman. Oh, ya..Trumpon adalah salah satu desa wisata --dari sekian banyak desa wisata yang dimiliki Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kenapa tiba-tiba saya bisa sampai ke Trumpon hari itu? Tuntutan pekerjaan, tak lebih.

Kembali ke topik utama, tentang Desa Trumpon. Udara pegunungan kawasan Merapi yang segar, panorama alam yang masih alami, penduduk yang masih memegang kuat tradisi, ditambah lagi dengan salak pondoh sebagai komoditas utama pertanian, merupakan daya tarik utama desa wisata ini. Karena itu pula, mayoritas pengunjung Desa wisata Trumpon adalah turis-turis/pelajar luar daerah/kota, atau bahkan mancanegara yang ingin merasakan hidup di pedesaan. Para wisatawan ini bisa menjadi 'wong ndheso' dengan cara menyatu dan berbaur hidup bersama penduduk setempat selama beberapa hari, tergantung paket wisata yang mereka pilih. 

Beberapa bulan pasca erupsi Merapi 2010, saya kembali ke desa wisata Trumpon. Secara rasa masih sama, kealamian sebagai desa pegunungan masih kental. Tapi, secara fisik, ada yang tampak berubah. Tanaman salak yang dulunya rimbun di pekarangan hampir semua warganya, memang mayoritas diperbaharui karena rusak oleh tebalnya paparan abu vulkanik. Rupanya Trumpon telah menambah satu lagi asset wisatan, sebuah gardu pandang yang di lengkapi dengan puluhan kolam-kolam pemancingan. 

Area tanah kas desa yang sebelumnya tidak begitu terkelola, telah dibangun sedemikian rupa menjadi obyek wisata baru. Waktu itu, pengunjung tempat ini memang belum begitu ramai. Hanya beberapa remaja, satu rombongan keluarga, dan 2 petugas jaga yang bertugas melayani pengunjung yang hendak menyewa teropong. Meski belum seramai tempat wisata yang lain, pada waktu itu saya berani mengambil kesimpulan; Trumpon makin maju dan berkembang, buktinya penampilannya semakin cantik, hingga makin enak untuk dilirik.

kawasan gardu pandang desa wisata Trumpon, 2011




Kawasan Trumpon, 2011 sedikit tersisa bekas paparan abu vulkanik Merapi

Apa kabar desa wisata Trumpon sekarang?

Tak banyak pemberitaan media yang mengangkat tentang desa wisata ini belakangan. Apa yang terjadi dengan area gardu pandang dan sekitarnya? 
"Maaf, beberapa fasilitas rusak, baru dalam proses perbaikan. Kalau sudah siap, kami infokan" Itulah jawaban singkat dari pengurus desa wisata, ketika beberapa hari yang lalu saya menanyakan tentang kondisi terbaru melalui layanan pesan singkat. Penasaran, meluncurlah kami ke Trumpon kembali.

Desa yang masih asri, dengan pohon-pohon salak yang hijau, dan menjulang tinggi. Pemandangan yang tak lebih sama dengan situasi 10 tahun silam. Sungguh, tak tampak lagi sisa-sisa kerusakan tanaman yang diakibatkan erupsi Merapi. Aktivitas pertanian dan perdagangan salak pondohpun sudah kembali pulih. Pas, jika mengunjungi atau berlibur di desa ini diakhir tahun; saat buah manis ini tengah memasuki masa panden raya. Lalu, tentang kawasan gardu pandang? Beginilah keadaannya sekarang.

gardu pandang, diresmikan tahun 2007


Sepi, dan telah dialih fungsikan sebagai camping dan outbond area. Gardu pandang dalam kondisi terkunci. Kolam-kolam ikan yang dulu digunakan sebagai pemancingan, kini difungsikan sebagai kolam pemeliharaan. Fasilitas kamar mandi baru , musholla sepertinya belum lama dibangun. Ada kolam renang yang entah kenapa tak lagi atau belum difungsikan. Trumpon rupanya memang tengah berbenah.

outbond area desa wisata Trumpon, foto diambil Mei 2015


Area pancing desa wisata Trumpon, foto diambil Mei 2015

Berkeliling di tempat ini, tiba-tiba kok saya teringat postingan salah satu blogger, mbak chi, tentang lokasi camping favorit keluarganya. Meski kondisinya tak sama persis, tapi menurut saya Trumpon punya potensi untuk dikembangkan kearah sana. Ada area yang begitu luas, lengkap dengan panorama alam yang mempesona. Aliran sungai dengan airnya yang jernih ditambah berhektar perkebunan salak yang tak semua tempat ada. Kenapa tidak digarap secara maksimal saja? 

Siapa yang nggak bangga coba, seandainya suatu hari nanti Sleman punya camping area yang nyaman, namun tetap bisa menyatu dengan alam. Kita tunggu beberapa bulan, atau beberapa tahun ke depan ya... Semoga Trumpon segera bangun dari tidur panjangnya, dan mimpi serta harapan saya untuk Trumpon bisa jadi nyata. Imbasnya, Slemanpun makin berkibar dalam bidang pariwisata. Ayo, segera agendakan liburan teman-teman. Jangan lupa,  jadikan  tempat wisata Sleman sebagai salah satu destinasi wisata keluarga!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis blog wisata ke Sleman


Comments

  1. Ternyata Slema juga punya wisata yang mengasikan juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Sleman Oke punya mak soal tempat wisata... Apa saja ada! Klo pas ke Jogja...jangan lupa mampir Sleman ya..!

      Delete
  2. wah menyerah aku nek soal jalan-jalan. ngertine mung jalan pleret thok. hehehe...good luck ya. semoga wisata di sleman makin semarak dan tetap hijau. kl sampe sleman gersang, jogja bisa bubar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalan Pleret juga sekarang wis manglingi mbak...:-) Oke, terimakasih. Iyo..Sleman jagonya wisata alam.

      Delete

Post a Comment

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin