Skip to main content

Ibu Raka, apa kabar yaa??

Seorang teman saya pernah komplain, karena akhir-akhir ini saya selalu telat untuk membaca ataupun membalas sms. “Padahal kan kamu sekarang di rumah, dulu masih kerja, ada sms cepet balesnya.” Asumsinya adalah, dulu kerja aja masih sempat bales sms, sekarang kok telat mlulu. Jadi ibu RT kok tambah sibuk. Tapi setelah saya renungkan, bener juga... Sering sekali saya telat bales sms teman-teman atau membiarkan (tak sengaja ) sebuah panggilan menjadi missedcall. Kenapa ya..??
Seorang teman di periklanan dulu, kini di Bandung mengikuti suami. Popi namanya. Sudah cukup lama menjadi ibu Rumah tangga.Pernah ia berbagi kepada saya , pekerjaan rumah tangga itu nggak ada habisnya, ada dan selalu ada. Dulu, saya pernah memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Tapi setelah menjalaninya...ternyata benar juga.. Tak jauh seperti pekerjaan publik, pekerjaan rumah tangga pun datang dan pergi bergantian. Bagaimana saya harus memanage rupiah agar bisa cukup untuk keperluan kami sekeluarga, membelanjakannya, mengolahnya. Mengatur rumah dan seisinya agar nyaman dilihat. Tampaknya sepele, tapi bisa juga serius. Apalagi punya anak kecil yang sedang mulai bandel dan hobi nyebar mainan ke penjuru rumah seperti Raka..... Gambaran nyatanya seperti ini, urusan anak selesai (mandi, makan, main atau mengantarnya sekolah, hingga kemudian ia tidur) kok nggak tega liat rumah berantakan. Dapur yang kotor, atau kulkas yang menuntut untuk dibersihkan. Pakaian tercuci, kering, masak gak di setrika?
“Bosan nggak jadi ibu Rumah Tangga?”, pertanyaan yang terlontar dari teman saya sekantor dulu setelah beberapa bulan tak bertemu. “Belum.” Jawab saya. Soal bosan apa nggak...relatif dan manusiawi sepertinya. Orang yang bekerja kantoran pun pasti ada titik jenuhnya alias bosan. Saat saya masih berkecimpung di luar rumah, saya pernah bosan dengan rutinitas terburu2 berangkat kantor-liputan-tulis naskah-pulang dengan terburu-buru juga. Saya pun harus siap jika suatu hari nanti saya merasa jenuh jadi ibu RT. Tergantung cara mensiasatinya menurut saya. Bagi saya, saat ini pekerjaan domestik ataupun publik sama berartinya. Semua ada sisi positifnya, ada sisi buruknya pula. Yang paling kentara membedakan adalah “penikmat hasil kerja kita”. Kalau dulu, saya dan teman-teman satu kru membuat sesuatu yang bisa dinikmati, ditonton banyak orang. Sedangkan klo sekarang, saya mengerjakan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sedikit orang (untuk keluarga terutama). Itu juga mungkin yang membuat profesi ibu rumah tangga dipandang sebelah mata.Disepelekan. Bener nggak sih??
Jujur, dalam menjalani profesi yang sudah hampir terjalani setengah tahun ini..kadar keikhlasan saya pun masih turun-naik. Kadang masih ngiri juga lihat teman seangkatan, seumuran yang masih bebas “terbang tinggi” mengejar karir. Saya hanya bisa meredamnya dengan “kondisi kami berbeda, itu yang membuat jalan hidup kami berbeda”. Yang harus saya syukuri adalah, hidup saya sudah lengkap. Pernah saya membuat sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang, sekarang tiba waktu saya untuk berkarya untuk keluarga. Suatu saat nanti, saat anak-anak saya sudah bisa “dilepas”...kepengen sekali bisa kembali melakukan sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang. Akhirnya..Selamat Hari Kartini!!

Comments

  1. halo mbak sulis..makin rajin posting nih..ditunggu terus ya tulisan2nya karena udah gak bisa lagi dengar narasinya kampung halamanku hehehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin