Skip to main content

DILEMA PEREMPUAN PEKERJA (PERS)

Waktu saya masih kuliah, melihat para reporter/wartawan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bisa tau kejadian/peristiwa sebelum orang lain tau...sepertinya menantang dan menyenangkan sekali. Dulu sempat berfikir..”andai ada stasiun TV di Jogja....pasti asyik. Apalagi saya bisa menjadi bagian di dalamnya”.


Hingga, ditahun 2004 ada lowongan di media cetak, stasiun TV lokal akan berdiri di jogja dan membutuhkan karyawan dalam semua posisi. Ya sudah...tidak menyia2kan kesempatan, kebetulan waktu itu juga masih kategori Fresh graduate. Beberapa tahapan test terlewati, pekerjaan idaman pun terjalani. Tidak menyangka juga..ternyata kantor televisi baru tersebut dibangun dekat rumah (5 menit perjalanan pake motor, bayangkan!)


Kuliah-kerja, sudah. Tiga tahun setelah lulus kuliah, saya menikah. Mau-tak mau, sesuai kesepakatan dan kelaziman, saya pindah ke rumah suami.

Jarak yang semula 5 menit sekali jalan, harus berubah menjadi 50 menit perjalanan...dengan catatan tanpa macet, nggak ada pejabat lewat, atau ibu ga perlu mampir2 belanja. Proses adaptasi di mulai. Tapi namanya dah suka ma pekerjaan...sepertinya jarak tak jadi masalah. Tapi bukan berarti tak ada yang berubah.

Menyandang predikat sebagai istri, berarti ada tanggung jawab baru yang harus saya sadari. Ibu lebih selektif terhadap jadwal liputan, menyelesaikan pekerjaan kantor secepat mungkin dan sebisa mungkin balik dari kantor jam 4 sore. Tapi kalaupun pulang telat, cukup sms “mas..ada mie dan telur di kulkas, maem pake mie aja ya”. Beres!!!

Dua tahun setelah menikah, hadir Raka. Jagoan kecil ini banyak membawa perubahan bagi keluarga kami. Rumah jadi ramai dengan tangisan maupun celotehnya. Banyak suka-duka yang turut menyertai. Masih inget kala raka masih bayi, adakalanya saya dan suami menemani Raka begadang dengan sistem shift. Pernah kejadian  mo nabrak truk gara2 ngantuk luar biasa pas mo berangkat kantor.

Sekarang Raka dah bukan bayi lagi. Batita tepatnya. Dah mulai bandel, tapi semakin ngangenin. Pokoknya kalau libur..pengennya cuma satu...ngabisin waktu ma keluarga! Tapi namanya juga kerja di media, kadangkala waktu liburnya susah di kompromikan. Pengennya sih minggu di rumah..eh, ada order liputan dari marketing. Mau ga mau harus berangkat kan??!

Kadang saya berfikir....apa saya kurang bersyukur ya..dulu pengen di media, sekarang dah di media banyakan ngeluh. Pernah saya nawarain opsi ke suami, biar saya di rumah, jagain Raka, nggak usah bayar mbak yang jagain Raka...tapi kata suami, “Ntar kamu bosen...di rumah terus...biasane jalan2 mlulu” .

Terus terang saya juga bingung......dilematis! Untuk jadi ibu RT sihsiap, demi anak. Tapi saya sih mikirnya ntar klo yang bekerja cuma suami, kasihan karena harus membiayai hidup kamii. Biaya hidup makin hari makin mahal. Belum lagi kalo ibu mertua sakit (kadar gula darah mbahnya raka tinggi), suami biasanya jadi tumpuan harapan bidang finansial.

Mendapatkan pekerjaan baru, dengan jam kerja yang lebih pendek, jarak lebih dekat dari rumah...syukur2 gajinya lebih gede. Itulah impian saya.  Pengen membantu suami, sekaligus juga ingin memberi lebih banyak waktu untuk Raka. Semoga Alloh mendengar do’a-do’a saya. Aamiin.

Comments