Personal & Lifestyle Blog

6 December 2007

Aku, Raka, dan Suamiku

U
ahmmmmmmmm…..ngantuk! Rasanya ada bandul berat tergantung di kelopak mata. Siang ini aku benar-benar mengantuk. Sebenarnya aku harus menyelesaikan naskah hasil liputan, tapi untunglah, aku sedang tak di kejar deadline, jadi aku bisa sedikit santai. Tak terasa, tujuh bulan sudah aku menyandang predikat sebagai ibu. Tidak mudah memang. Kerap terbangun di kala malam untuk mengganti celana yang basah, membuatkan susu, ataupun menidurkan kembali anak kami yang terlanjur terbangun, kini merupakan rutinitas setiap hari.

Yah, aku memang tak sendiri. Beruntung, suamiku termasuk tipe laki-laki yang sadar akan kewajibannya. Jadi setiap berada di rumah, kami selalu berbagi pekerjaan dalam hal mengurus sang buah hati. Hari libur dan juga kalender merah, memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Hanya hari-hari itulah, kami bisa berlama-lama merawat anak, yang di hari biasa kami delegasikan pada seorang baby sitter.

Raka adhi Gunattama, kami biasa memanggilnya raka. Hmm..anak yang cakep dan juga baik. Kami beruntung, sepertinya raka tahu, kalaupun setiap siang kami harus meninggalkannya untuk bekerja, toh untuk dia juga. Suamiku bekerja di kantor pemda, kantor keuangan dan kekayaan daerah. PNS memang..tapi kalau lembar-lembar LPJ sudah menumpuk di meja kerjanya, jangan harap ia bisa meninggalkan kantor jam 2 siang seperti PNS kebanyakan. Bisa dipastikan si ayah akan pulang larut malam, saat kami –istri dan anaknya telah tertidur. Sementara aku sendiri, adalah pekerja pers. Kantor jauh dari rumah, hingga aku harus kehilangan 2 jam di jalan, setiap hari. Tiba di rumah saat adzan maghrib berkumandang, dan raka sudah terlelap, adalah kejadian sehari-hari.

Merasa bersalah, tentu. Bagaimanapun aku seorang ibu. Tapi mesti bagaimana? Keluar dari pekerjaan dan 100% menjadi ibu rumah tangga, tentu keputusan konyol. Kebutuhan hidup, biaya sosial berrumah tangga tidak lagi sedikit. Kalau hanya suamiku yang bekerja, aku tak yakin..kami bisa memberikan susu formula dan makanan bergizi buat raka. Susu formula? Iya, karena aku tak bisa seperti ibu-ibu yang lain. Sejak 3 bulan lalu anakku lebih memilih empeng karet daripada menghisap puting ibunya. Belum lagi kesiapan psikologisku. Aku sama sekali tak bisa membayangkan, kalau secara finansial harus sepenuhnya tergantung pada suami.

Ah, semoga..suatu hari aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Lebih dekat dari rumah maksudnya, hingga ibu bisa berlama-lama dengan mu. “Sabar ya naak”, ucapku lirih sambil mengusap kening raka yang tengah tertidur lelap. Pada suatu senja. Kala matahari tengah bersiap naik ke peraduan.

***
Letih. Tapi menakjubkan. Itulah yang kurasakan semenjak kehadiran raka di rumah ini. Mengamati perkembangan demi perkembangan yang dilewati bocah ini, sungguh merupakan hal yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. “Cepat besar ya sayang..jadi anak sehat..pinter. Jadilah anak yang bisa kami banggakan” . Permohonan itulah yang senantiasa kami bisikkan di telinga Raka, dan kami mohonkan pada Tuhan. Setiap saat, setiap tarikan nafas kami.

Pagi buta. Kala semua listrik tetangga masih menyala, dan ayam jantanpun belum berhasrat untuk berkokok. Ba..ba..da..da, celoteh raka membangunkan aku dan suamiku. Aku lirik jam dinding, pukul 2 pagi. Dengan malas suamiku menyibakkan selimut, mengucek mata. “Ah, pasti dia juga masih ngantuk”, batinku. Baru 2 jam kami terlelap, setelah tepat tengah malam tadi raka sempat terbangun karena haus dan mengompol.

Dengan langkah sempoyongan –karena nyawa belum sepenuhnya terkumpul, aku hampiri boks yang kami letakkan tak jauh dari bed tempat aku dan suamiku tidur. Amboi, senyum jagoan kecil kami langsung tersungging begitu melihatku. Aku menamakan senyuman anak kami sebagai senyum ajaib, sebuah gerakan bibir yang bisa meluruhkan perasaan letih dan lelah kedua orang tuanya.

“Ini masih gelap sayang, bobok lagi ya. Mainnya besok”, pintaku sambil mengangkatnya dari boks, tentunya setelah kupastikan celana yang dikenakannya tak basah terkena air pipisnya. Bertambah usia, raka memang semakin senang bermain dan berceloteh, cuma kadang timing nya kurang pas. Seperti pagi ini, ketika kami berdua benar-benar mengantuk.

“Matanya dah jernih gini kok mas, susah klo di ninabobokkan lagi”, jawabku saat suamiku minta aku menggendong raka dan menidurkannya lagi. Di rumah ini, hanya aku dan mbak rus –baby sitter kami yang bisa menidurkan raka. Entahlah, naluri perempuan mungkin. Atau karena suamiku tak bisa bersenandung? Sejak raka masih sangat kecil , agar bisa tertidur, kami biasa bersenandung ataupun menyanyikan lagu untuknya. Kebiasaan itu rupanya terbawa sampai sekarang. Menjaga secara bergantian. Itulah keputusan kami, mengingat aku dan suamiku sama-sama mengantuk. Setengah jam pertama, giliran suamiku, dan setengah jam berikutnya giliranku, tentunya dengan tugas tambahan: menggendongnya, bersenandung, hingga raka kembali tidur. Baru sekarang aku merasakannya sendiri, menjadi orang tua memang tak mudah.

***
Jalanan Jogja kian hari kian sumpek. Setidaknya, itu yang aku rasakan. Pembongkaran sebagian badan jalan di perempatan jalan Magelang mau tak mau menimbulkan kemacetan, hingga yang tampak kemudian adalah kendaraan sesak berhimpit, dengan asap yang mencekik paru-paru. “Menyebalkan, mana aku harus liputan pagi lagi..”, gerutuku dalam hati sambil membetulkan masker. Untung, pagi itu aku hanya melewati satu titik kemacetan yang lumayan parah. Selebihnya, aku bisa memacu kuda besiku ini dengan cukup lancar.

Pagi ini kami –aku bersama eko, salah satu kameramen –sudah berada di Kalasan. Dari literatur yang kemarin aku baca, di masa perjuangan kemerdekaan, kawasan ini pernah digunakan sebagai base camp para tentara pelajar di era clash II. Karena itulah, begitu aku mendapatkan tugas dari redaktur pelaksana untuk mewawancarai seorang veteran, tujuan langsung kami arahkan motor ke wilayah yang terletak di sebelah barat candi Prambanan. Rupanya dewi fortuna sedang berpihak pada kami. Tak perlu berlama-lama bertanya, akhirnya aku mendapatkan sebuah nama yang bisa aku jadikan nara sumber.

Wongso Wiarjo, seorang kakek yang dulu terlibat langsung dalam peperangan Plataran, kini ada di hadapanku. Berkaus putih lusuh dan celana hitam ala pak tani, pejuang ini terlihat asyik menumbuk daun pepaya. Mungkin untuk dopping stamina tubuhnya yang kian termakan usia, sama seperti dinding bambu rumahnya yang terlihat lapuk di makan serangga.

“ Jaman penjajah niku rekoso saestu, penyakit mewabah..kolera, klambi-kathok nganggo goni, mangan godhong lumbu...”(hidup di jaman penjajahan amatlah sulit, banyak penyakit mewabah, kolera misalnya. Baju dan celana terbuat dari kantung goni, makan juga seadanya, dari daun talas) paparnya. Kulihat ada titik bening menggantung di matanya. “Riyen, omah kulo niki nggo deleh senjata. Kulo nggih melu perang(dulu, rumah saya dipake untuk tempat menyimpan senjata. Saya juga ikut perang waktu itu). Mbah wongso terdiam sejenak. Pandangannya tampak menerawang. Tanpa di komando, ia pun meneruskan ceritanya. Londo niku yen njajah ngawur..esuk-esuk wis di serbu capung, di tembaki brem...nganti kampung ajur, mumrut! (Belanda itu kalau menjajah, ngawur..pagi buta sudah menyerbu dengan pesawat capung dan miriam, membuat seisi kampung hancur lebur). Seulas senyum getir terlihat dibibirnya. Mendengar penuturan mbah wongso, bulu kudukku berdiri. Aku tak bisa membayangkan andaikan aku harus hidup di masa itu. Pasti teramat mengerikan, jauh lebih menakutkan daripada isu tsunami setelah gempa besar melanda yogya beberapa bulan silam.

Meski pendengarannya sudah jauh berkurang, untung narasumberku kali ini termasuk tipe orang yang senang bercerita. Sebelum matahari tepat diatas kepala, kami sudah menyelesaikan wawancara. Sepulang dari tempat ini, aku tinggal menyusunnya dalam satu atau dua buah feature yang akan di tayangkan nanti malam. Bagiku, itu bukan perkara rumit, toh aku sudah terbiasa menulis berita. Satu hal yang terus mengganjal, adalah obrolan singkat kami dengan mbah Wongso di akhir wawancara tadi. Enam puluh dua tahun silam, kakek itu bahkan telah bertaruh nyawa demi sebuah kemerdekaan. Tapi kini, setelah kemerdekaan secara de facto didapatkan dan kemewahan menjadi suguhan sehari-hari warga negeri ini, kenapa tak sedikitpun ia bisa mencicipnya? “Kulo niku yen mlarat ajek...ning po yo mlarat banget, ketoke yo wis iso kathokan.... Bentene Riyin kalih sak niki....Riyen kathah tiyang ngangge sabuk, sak niki para pemimpin, penguasa...wetenge sak gong-sak gong”. (Saya itu kalau melarat, tetap, sejak jaman dulu..tapi sepertinya juga sudah lumayan, toh sudah bisa beli celana. Cuma bedanya, kalau dulu masih banyak orang memakai sabuk/mengencangkan perut..tapi sekarang para pemimpin/penguasa perutnya pada besar-besar). Ungkapan kepasrahan? Bisa jadi. Atau protes seorang pejuang terhadap generasi penerus negeri? Mungkin saja. Yang jelas, wawancara hari ini membuatku berfikir ulang, seberapa besar negara ini menghargai jasa para pejuang?

***
Tit..tit. Nada sms terdengar dari ponselku.
1 message received
Hore....ayah dah sama raka. Ni lagi maen di rumput. Nanti aku ga usah dibelikan lauk, td bawa dari kantor. Sender, ayah

Reply
J salam sayang buat raka, sampai ketemu nanti sore...
Delivered

Aku tersenyum. Sms dari suamiku. Rupanya hari ini ia bisa pulang lebih cepat dari hari-hari biasanya. Ku lirik layar ponsel, pukul 14:35, itu artinya masih 3 jam lagi aku bisa sampai rumah, dan berkumpul dengan keluargaku. Tik..tik, jari-jari ku pun kembali menari diatas keyboard, merangkai kata untuk sebuah berita.

“Mas, sore ini aku beli sayur padang ma gorengan aja , gak papa ya..” Kataku sambil meletakkan bungkusan sayur dan lauk di meja makan. “Iya, td aku dah makan kok. Tadi dapat nasi box dari kantor, trus aku bawa pulang, jawab suamiku. Kulihat ia tengah asyik menyimak berita di televisi.

Sejak ada raka, aku jarang memasak untuk kebutuhan perut kami –aku, suami, dan mbak rus. Tidak sempat tepatnya. Segera kulongok boks bayi di kamar, anak manis itu tengah terlelap. Segera kusambar handuk, mengguyur tubuh penat ini dengan dinginnya air di kawasan kaki merapi. Tak lama berselang, piring di depanku sudah bersih. Sayur padang plus tempe mendoan yang aku beli sepulang kantor tadi benar-benar terasa nikmat. Entah kenapa.. tapi petang ini aku benar-benar merasa lapar. Sementara di luar rumah , tampak warna jingga itu semakin menggelap, pertanda malam akan segera menyowani bumi. Rutinitas itu pun akan segera kembali, tidur , mengganti celana, dan menidurkan kembali sang buah hati kami.

2 comments:

  1. hari-hari itu sudah berlalu ya lis. biarpun sekarang ngulang lagi momong anak kecil tapi kehebohan sehari-hari di jalanan udah ga ada lagi. lebih ayem atau masih ada rindu ke sana lagi lis? ah, nanya apaaa aku ini. setiap hari adalah anugerah kok ya.

    ReplyDelete
  2. Jujur...kadang masih kangen mbak. Ngukur jalanan, ketemu orang2 yang berbeda tiap hari.....teman2 yang baik. Ah, tapi mungkin semua ada waktunya mbak....sekarang mmg harus mengabdi untuk keluarga. Dijalani saja...sing lebih susah hidupnya dari kita buanyyakkkk....Alloh sudah begitu banyak menjawab doa2 kita.

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin